Selamat Datang di Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim YogYakarta, Mewujudkan Generasi Mu’min, Mu’allim, Mubaligh, Mujahid yang Mukhlis
Home » , » HUKUM PUASA DI HARI TASYRIQ

HUKUM PUASA DI HARI TASYRIQ

Diterbitkan oleh: Ibnul Qoyyim Jogjakarta pada Sabtu, 19 Oktober 2013 | 13.32

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Hari tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah) adalah di antara hari yang dilarang berpuasa, baik itu puasa ayyamul bidh (13, 14, 15 Hijriyah), puasa Senin dan Kamis, maupun puasa Daud.
Larangan Puasa pada Hari Tasyriq
Di antara hari yang terlarang untuk puasa adalah hari tasyriq (11, 12 dan 13 Dzulhijjah). Dalam hadits disebutkan,
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
"Hari-hari tasyriq adalah hari makan dan minum." (HR. Muslim no. 1141).
Imam Nawawi berkata, "Ini adalah dalil tidak boleh sama sekali berpuasa pada hari tasyriq." (Syarh Shahih Muslim, 8: 18)
Yang Dikecualikan
Dikecualikan bagi yang berhaji dengan mengambil manasik tamattu' dan qiron lalu ia tidak mendapati hadyu (hewan kurban yang disembelih di tanah haram),  maka ketika itu ia boleh berpuasa pada hari tasyriq. Dari Ibnu 'Umar dan 'Aisyah berkata,
لَمْ يُرَخَّصْ فِى أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ ، إِلاَّ لِمَنْ لَمْ يَجِدِ الْهَدْىَ
"Tidak diberi keringanan di hari tasyriq untuk berpuasa kecuali jika tidak didapati hewan hadyu." (HR. Bukhari no. 1998).
Inilah pendapat dalam madzhab Syafi'i (pendapat terbaru) dan pendapat Hambali.
Yang Ada di Hari Tasyriq
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Hari-hari tasyriq adalah tiga hari setelah Idul Adha. Hari tasyriq disebut demikian karena pada hari itu kaum muslimin menyajikan kurbannya dan ada yang menjemurnya di terik matahari. Dalam hadits disebutkan dianjurkannya memperbanyak dzikir di antaranya takbir pada hari-hari tasyriq." (Syarh Shahih Muslim, 8: 18).
Berlaku pula untuk puasa ayyamul bidh, silakan baca: Puasa Ayyamul Bidh pada Hari Tasyriq.
Demikian, moga yang singkat di malam ini bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.

Referensi:
Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.
Al Mawsu'ah Al Fiqhiyyah, terbitan Kementrian Agama Kuwait.
---
Akhukum fillah,
Muhammad Abduh Tuasikal 
Sumber: Rumaysho.Com
Bagikan artikel :

0 komentar :

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

STATISTIK

Pengikut

 
Support : TIM Redaksi Ibnul Qoyyim
Web: ibnulqoyyimyogyakarta.sch.id
Copyright © 2015. Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Yogyakarta - All Rights Reserved
Saran, kritik dan pertanyaan bisa dikirim ke Ibnulqoyyimjogjakarta@gmail.com